oleh

Kelompok Aktivis Kerinci “Minta Mulyadi Segera Ganti HP Yang Baru ?!

 

Suarawarga.com Kerinci – Jambi — Heboh apanya kata Aktivis Kerinci menyoal video yang di posting Mulyadi siasatinfo.co.id seorang wartawan abal-abal yang belum lulus uji kompetensi tersebut.

Nulis berita saja tidak tahu, Mulyadi itu tamatan apa, Ada dia sekolah apa gak, yang nulis berita itu si Jamris tutur Aktivis sambil tertawa terbahak-bahak.

Sementara Aktivis yang lain mengatakan Mulyadi mesti mengganti HP Jadul miliknya, sambil mencemooh.

Sontak saja saat mendengar percakapan di atas awak media suarawarga.com terjunkan banyak wartawan untuk mengungkap cerita kelompok para Aktivis tersebut.

Saat di lapangan awak media temukan hal yang sangat mencengangkan; kenapa tidak, Mulyadi orang muara semerah mudik di sebut sudah tidak punya urat malu lagi, entah apa yang di kerjakannya, pagi-pagi sudah keluyuran keluar masuk kantor mencari Pak Kades, Kontraktor maupun pejabat lainnya tutur masyarakat.

Sementara perihal Mulyadi di sebut mesti mengganti HP Jadulnya, ternyata dari pertemuan antara KPM dengan pihak Dinsos lebih kurang 2 jam, yang mampu di rekam oleh HP Mulyadi cuma 1 menitan, dari rekamam tersebut tidak bisa di jadikan acuan untuk mengambil kesimpulan.

Ketika di konfirmasi E warung menjelaskan, dari video yang di unggah Mulyadi kita dapat melihat, keterangan yang diberikan oleh seorang penerima bantuan tidak pas, karena didalam vidio tersebut membahas kejadian yang sudah hampir 5 bulan.

E warung menyebutkan, aturan dalam pembagian sembako sangat ketat, daftar komoditi yang diterima oleh KPM wajib di tempel di dinding, jadi KPM bisa kroscek bahan pangan yang di dapat oleh mereka, Apakah ada yang kurang apa tidak, apakah ada bahan yang rusak apa tidak, mereka diberikan waktu untuk memberitahukan kepada E warung ketika masih berada di lokasi pembagian.

Apabila sudah keluar dari lokasi pembagian aturannya jelas, tidak bisa dilayani, bisa saja mereka berbohong dan memfitnah tutur E warung.

Perihal E warung tidak mau memberikan komoditi ayam itu sangat sederhana sekali.

E warung mengatakan, bahwa hampir di daerah Kerinci hilir persoalan yang muncul mengenai ayam busuk terus, selalu ada berita perihal ayam busuk. Penyalur tahu benar kalau ayam sudah di potong daya tahannya sebentar, pasti setelah 6 jam ayam mulai busuk.

Logikanya seperti ini tutur E warung. Apabila pembagian sembako besok pagi, berarti ayam harus di potong malam hari sebelum pembagian. Itu harus di pesan dulu kepada pedagang ayam. Biasanya ayam Akan disembelih jam 3 dini hari, kalau daya tahannya selama 6 jam otomatis ayam mulai berbau jam 10 pagi. Maka oleh karena itu E warung mengganti komoditi ayam dengan daging, kenapa? agar tidak terjadi persoalan ayam busuk.

Adahal penting lagi yang dibicarakan dalam vidio tersebut, mengenai kalau 3 bulan harus 3 kantong, mana mau E Warung 3 kantong palstik harganya 3 ribu rupiah, yang penting komoditi senilai dengan harga yang di tempel di dinding itu haknya E warung kalau mau ngasih kantong atau tidak. E warung juga mencontohkan di dalam balai mingguan saja mereka tidak di kasih kantong besar, mereka beli sendirikan, itu sudah mendingan E warung kasih kantong.

Kalau disebut mengintrogasi warga itu tidak benar, karena E warung ketika ada yang komplain tentu Akan bertanya apa persoalannya, apa kendalanya kepada penerima bantuan pangan.

Faktanya dari seluruh penerima bantuan pangan cuma 1 orang saja yang mengatakan telurnya kurang. Itupun kejadian sudah 5 bulan. Bagaimana kalau dia berbohong.

Ada satu lagi tutur E warung yang perlu di perhatikan, kantong besar tidak ada dalam daftar komoditi berarti mereka harus beli sendiri ungkap E warung, buktinya apa mereka sekehendak hati saja mengambil kantong besar sampai 3 buah, itu sudah 3.000 Rupiah, coba kalau dikalikan semua penerima, bisa sampai Rp. 500.000 an.. Itu kan tidak disediakan cuma kebijakan saja.

Lanjut ungkap E warung, hampir 2 tahun pembagian dalam masa Pandemi covid-19, itu mewajibkan penerima manfaat memakai masker buktinya apa, Sebagian dari penerima bantuan tidak memakai masker. Masker di kasih cuma-cuma dan gratis, harga masker 1 pcs itu Rp. 5.000 mereka ambil seenaknya saja ada yang 1 ada yang 2 ada yang 4, kan rugi sebenarnya E warung, tidak di kasih disebut kami pelit ungkap E warung.

Terus, penyalur juga menjelaskan perihal komoditi, jatah mereka kan Rp. 200.000 bukan seperti yang diberitakan Mulyadi sebesar Rp. 300.000.

300 dari mana dari hongkong ungkap E warung, saya tidak bilang dia bodoh tapi saya saranin sebelum berita di rilis dicari dulu faktanya.

Begini saja kata penyalur mari kita hitung :
1. Beras 10 Kg nilainya Rp. 105.000.-
2. Telur 20 butir nilainya Rp. 40.000.-
3. Ikan 1 Kg nilainya 35.000 paling murah kalau akhir tahun harganya sampai 45.000 ungkap penyalur. 
4. Kentang 1 Kg nilainya Rp. 14.000.-
Jadi
Rp. 105.000 + Rp. 40.000 + Rp. 35.000 + Rp. 14.000 = Rp. 194.000

Jadi sisanya berapa kan Rp. 6.000.-
Itu yang di kasih tahu 4 biji

Kesimpulannya apa, mereka seharusnya berterima kasih Kepada E warung.. Selama ini kalau ada yang komplain saya kasih aja.. Tapi kalau seperti mereka tiba-tiba komplain kejadian sudah lama terus solusinya kan sulit, itupun mereka tetap saya selesaikan.

Bagaimana kalau saya minta mereka menghitung jumlah masker dan kantong palstik yang mereka ambil seenaknya saja dari E warung dan di minta mereka hitung sendiri dan fikir sendiri uangnya dan bayar uangnya, apa mereka mau?

Awak media juga sudah mengkonfirmasi orang yang di dalam vidio tersebut, dikatakan itu cuma pertemuan biasa, yang hadir kebanyakan orang yang ingin di daftarkan sebagai penerima bantuan, tidak di kira akan di goreng oleh oknum wartawan. 

Disamping itu pihak Dinsos juga membenarkan kalau aturan yang berlaku, KPM kalau ada komplain mesti diberitahukan sebelum meninggalkan lokasi pembagian. Kalau sudah lama seperti ini sebenarnya tidak bisa ditindak lanjuti.

Pihak Dinsos juga menambahkan kalau ada persoalan seperti ini cepat laporkan kepada dinas terkait kan di situ ada pendamping, jadi cepat di selesaikan. (LM-060)

@ iwan, iksal, syafri, niko, reza, imaldi, yogi, veki, zn, dan Tim