oleh

Pelaku Pemerkosaan dan Pembunuhan Siswi di Aceh Singkil Dihukum Mati


Suarawarga.com, Medan-
-Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Singkil memberikan vonis hukuman mati terhadap dua pelaku pemerkosaan dan pembunuhan terhadap seorang siswi di Desa Lipat Kajang, Kecamatan Simpang Kanan, Aceh Singkil, Senin (18/10/2021).

Kedua pelaku, yakni AS (34) dan KH (56), memperkosa dan membunuh secara sadis terhadap korban LCB (13) pada Mei 2021 lalu di belakang Kantor Kepala Desa Lipat Kajang, Kecamatan Simpang Kanan, Aceh Singkil.

Sidang putusan itu dipimpin langsung Hakim Ketua yakni Ramadhan Hasan, didampingi Hakim Anggota, Antoni Febriansyah dan Redy Hary Ramandana serta yang bertindak sebagai Panitera Pengganti yakni Yasir Almanar.

Dalam sidang tersebut, juga hadir Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Pengacara Negara Kejaksaan Negeri (Kejari) Aceh Singkil. Sidang itu juga dihadiri orangtua dan keluarga korban.

Hakim Ketua membacakan putusan terhadap pelaku yang dianggap telah melakukan perbuatan sadis itu dengan hukuman mati.

Mendengar putusan hakim, ibu korban langsung sujud syukur. Sebab, putusan hukuman mati terhadap pelaku adalah harapan orangtua korban.
Putusan juga disampaikan humas melalui Juru Bicara (Jubir) PN Singkil, Fachry Ryan, saat konferensi pers didampingi humas, Hasyim.

Disampaikan, terkait putusan tersebut melalui proses persidangan dari dakwaan, pembuktian (pemeriksaan saksi dan barang bukti), tuntutan, pembelaan, dan putusan, keduanya didakwa oleh Penuntut Umum dengan dakwaan subsadaritas yaitu primair perbuatan diatur dan diancam Pasal 81 ayat (5) UU Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.

Ryan mengatakan, dalam memeriksa, mengadili dan memutus perkara, hakim mempertimbangkan atas dasar minimal dua alat bukti. “Ditambah keyakinan hakim sebagaimana diatur dalam Pasal 183 KUHP ddan alat bukti yang dimaksud sebagaimana tertuang di dalam Pasal 183 KUHP, putusan itu telah dibacakan pada hari ini dan telah kita dengar bersama bahwa kedua terdakwa ini sudah dijatuhi hukuman mati,” kata Ryan.

Dalam memutus suatu perkara, hakim mempertimbangkan segi filosofis, sosiologis dan yuridis. Terhadap putusan tersebut baik Penuntut Umum maupun terdakwa memiliki hal yaitu pertama menerima. Kedua, upaya hukum dan ketiga, pikir-pikir selama tujuh hari sebagaimana telah disampaikan majelis hakim pada persidangan tadi telah terlaksana, tambahnya.

Disinggung terkait pikir-pikir, Ryan menyampaikan, upaya hal itu diberikan waktu selama tujuh hari.
“Undang-undang menyatakan bahwa hak yang diberikan selama tujuh hari. Nah, selama tujuh hari itu nanti dia bisa mengajukan upaya hukum. Namun, apabila selama tujuh hari itu dia tidak mengajukan upaya hukum, maka putusan itu akan berkekuatan hukum tetap secara otomatis setelah tujuh hari. Jadi dia tidak bisa mengajukan upaya hukum lagi,” tuturnya.

Dikonfirmasi terpisah, ayah kandung korban LCB, Syarifuddin Marbun, mengatakan, dirinya sangat bersyukur atas putusan yang diberikan tersebut.
“Kemarin saya meminta dan memohon kepada Pak Hakim hari itu hukuman mati, ini betul hakim di Aceh Singkil alhamdulillah diucapkan Pak Hakim juga,” ucap pria yang kerap disapa Udin ini.

Syarifuddin Marbun juga menyampaikan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada majelis hakim. “Saya juga terima kasih sama Pak Polisi Polres Aceh Singkil, sama Pak Jaksa, Pak Hakim Pengadilan Singkil, saya ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya Pak, karena apa yang saya minta dikabulkan,” sebutnya.

Ibu kandung korban, Nursami, terpisah mengatakan, dia sangat senang dan berterima kasih atas putusan terhadap pelaku.

“Terima kasih kepada Bapak Polisi, Bapak Jaksa, Bapak Hakim, senanglah hatiku atas putusannya. Alhamdulillah panjang umur semua telah menolongku, membantu aku, membantu anakku itu, makasih. Makasih untuk semua kaum-kaumku (kerabat/keluarga) panjang umur kalian membantu anakku itu,” tukasnya. (LM-009)